BANJARNEGARA.RILISJATENG.COM – Senator DPD asal Jawa Tengah yang juga Wakil Ketua Komisi I DPD RI Muhdi mengingatkan peran PGRI dalam lintasan perjuangan guru di Indonesia. Hal itu disampaikannya di hadapan ratusan peserta Penguatan Kapasitas Pengurus (PKP) Pengurus PGRI Banjarnegara, Rabu (22/72026) di Rumah Guru PGRI Banjarnegara.
Menurut Muhdi, anggota PGRI harus bangga dan cinta kepada organisasinya, bukan karena dapat Tunjangan Profesi Guru (TPG) saja, namun karena peran organisasi ini memang luar biasa.
“Sejak tahun 1912, kita sudah berorganisasi untuk tujuan besar, yaitu Indonesia merdeka. Guru tidak kalah peran dengan Kyai sebagaimana Muhammadiyah dan NU berdiri di era yang sama. Bahkan sampai saat ini, hanya PGRI saja yang memakai Republik Indonesia di belakang namanya,” kata Muhdi.
Muhdi menegaskan bahwa satu-satunya jalan terbaik mengubah nasib seseorang bahkan bangsa adalah melalui dunia pendidikan. Hal itulah yang mendasari bahwa merdeka tidak akan berarti kalau tidak sejahtera, dan kesejahteraan bisa dicapai dengan pendidikan.
“Ini yang saya lihat ketika melihat diri sendiri dan Pak Sulistyo. Dari orang desa yang sangat pelosok, menjadi orang yang sangat hebat. Bicara sejarah PGRI tidak hanya di Solo seratus hari setelah kemerdekaan Indonesia, namun harus melewati Banjarnegara karena perjuangan Sulistyo,” tandas Muhdi.
Ia mengenang bahwa PGRI saat Orde Baru merupakan anak manis. Namun paska Reformasi, Sulistyo mampu membawa PGRI menjadi lebih kuat dan bermartabat.
“Bahkan saat itu HUT PGRI sempat diundur di bulan Desember tahun 2006 untuk mengumumkan UUGD hasil perjuangan PGRI. Dan itu terus kita kawal sampai kesejahteraan guru terwujud. Juga mengangkat guru honorer, skema PPPK sampai Paruh Waktu, semua diperjuangkan oleh PGRI,” kenang Muhdi. Namun ia menilai, pemerintah belum sepenuhnya memberikan perhatian penuh kepada dunia pendidikan.







