BANJARNEGARA.RILISJATENG.COM – Pemerintah Kabupaten Banjarnegara mendorong pengembangan ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak perekonomian daerah. Melalui peringatan Hari Ekonomi Kreatif bertajuk EKRAF DAY 2026: Rekacipta Nusantara, pemerintah daerah berupaya mempertemukan pelaku usaha, komunitas, seniman, dan generasi muda dalam satu ruang kolaborasi sekaligus promosi potensi lokal.
Kegiatan yang berlangsung di Alun-alun Banjarnegara, Sabtu (31/10/2026), tersebut mengusung tema “Berkarya, Berdaya, dan Berdampak” dengan semangat “Merawat Tradisi, Menggerakkan Inovasi”.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara sekalaligus ketua panitia mengatakan, ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sektor ini bertumpu pada kreativitas, inovasi, pemanfaatan potensi lokal, serta kemampuan meningkatkan nilai tambah suatu produk.
Menurutnya Banjarnegara memiliki potensi melalui 17 subsektor ekonomi kreatif yang perlu terus dikembangkan agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Potensi bakat, karya, dan komoditas yang kita miliki harus terus dikembangkan”
“Penyelenggaraan EKRAF DAY 2026 tidak hanya diarahkan sebagai perayaan tahunan, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan wawasan serta apresiasi masyarakat terhadap 17 subsektor ekonomi kreatif, sekaligus menyediakan ruang bagi generasi muda untuk menampilkan bakat dan kreativitasnya” lanjutnya.
Sejumlah agenda digelar dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Banjarnegara Street Coffee Fest, pengenalan dan talkshow 17 subsektor ekonomi kreatif, serta Ekraf on the Runway yang menampilkan karya fesyen pelaku ekonomi kreatif lokal.
Selain itu, kegiatan juga menghadirkan pameran fotografi oleh Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara (KPFB), pertunjukan musik, aktivitas melukis dan mewarnai secara langsung, hingga kompetisi olahraga elektronik atau e-sport, dan ditutup dengan pertunjukan seni budaya warok.
Berbagai agenda tersebut melibatkan pelaku usaha dan komunitas dari sejumlah subsektor ekonomi kreatif, komunitas kopi lokal, perajin, desainer fesyen, fotografer, musisi, seniman tari, kelompok seni budaya, pelajar, komunitas literasi, komunitas e-sport, pedagang lokal, serta masyarakat umum.
Keterlibatan beragam kelompok tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya berkaitan dengan penciptaan karya, tetapi juga membuka ruang interaksi dan peluang ekonomi bagi masyarakat. Promosi produk kuliner, kopi lokal, kerajinan, fesyen, dan karya kreatif lainnya diharapkan dapat memperluas pengenalan produk daerah kepada publik.
Ketua Komite Ekonomi Kreatif (EKRAF) Kabupaten Banjarnegara, Kristiono Hadi Pranoto dalam kesempatan yang sama menegaskan, pengembangan ekonomi kreatif tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah.
“Diperlukan kolaborasi melalui pendekatan hexahelix yang melibatkan enam unsur, yakni pemerintah, pelaku usaha, komunitas atau asosiasi, akademisi, media, serta lembaga keuangan dan mitra sponsor.”
Sinergi antarpihak tersebut diperlukan untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
“Dukungan tidak cukup berhenti pada penyelenggaraan pameran atau pertunjukan, tetapi juga perlu diarahkan pada pengembangan kualitas karya, penguatan usaha, dan perluasan akses pasar”
Melalui EKRAF DAY 2026, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara mengapresiasi keterlibatan seluruh panitia, sponsor, mitra kerja sama, seniman, barista, perajin, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Pemerintah daerah juga berharap potensi kreativitas masyarakat Banjarnegara ini dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang lebih produktif dan berdaya saing.(***)
